KECERDASAN EMOSIONAL
a. Pengertian Emosi
Manusia sesungguhnya dikendalikan oleh salah satu atau lebih dari sumber – sumber emosi yang pada keadaan normal tidak terlihat karena aktivitas rutin sehingga emosi tidak aktif. Dalam keadaan lain emosi muncul baik dalam bentuk kemarahan atau kegembiraan. Emosi adalah perasaan kuat yang diarahkan ke seseorang atau sesuatu, sedangkan emosi menurut Daniel Goleman dalam Oxford English Dictionary[1] didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang meluap-luap. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut pada waktu singkat; keadaan reaksi psikologi dan psikologis ( seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian) yang bersifat subyektif. Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “ menggerakkan, bergerak”, di tambah awalan “e”- untuk memberi arti “bergerak menjauh” menyiratkan kecendrungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Definisi emosi secara akurat diungkapkan oleh J.P. Du Preez sebagai hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik, yang berarti emosi adalah hasil proses persepsi tentang situasi, tergantung bagaimana cara pandang atau mempersepsikan sesuatu dan terkait dengan tiga aspek penting yaitu: persepsi, pengalaman, dan proses berpikir.
Pada prinsipnya emosi menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda, seperti dijelaskan Atkinson yang membedakan emosi hanya dua jenis yaitu emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Sementara itu Richard G. Warga dari Bucks County Community Collage dalam bukunya Personal Awareness seperti dikutip oleh Dio Martin membagi lima emosi dasar manusia yakni: senang, sedih, cita, takut, serta marah, sedangkan menurut hasil penelitian Paul Ekman dan Richard Lazarus ditemukan 6 emosi dasar manusia yang bersifat universal yakni: senang, marah, sedih, kaget, jijik dan takut.
Semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, dimana pikiran emosional lebih cepat dari pada pikiran rasional, respon yang cepat tetapi ceroboh (langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukannya). Kecepatannya itu mengesampingkan pemikiran hati-hati dan analitis yang merupakan ciri khas akal yang berpikir.
Berpikir adalah proses yang menafsirkan berbagai peristiwa dan lingkungan dan diikuti dengan bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap suatu keadaan. Penelitian mengungkapkan bahwa otak kita merasa 30.000 kali lebih cepat bertindak, bertindak 30.000 kali lebih capat dari pada berpikir. Kemampuan seseorang dalam keterampilan emosi sangat diperlukan dalam bersosialisasi di dunia sosial, pendidikan maupun pekerjaan, antara lain adalah dalam mengelola emosi, kemampuan berelasi atau berempati, kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan membutuhkan ketabahan emosi guna menghindari konflik. Dio Martin mengungkapkan empat manfaat kemampuan seseorang dalam menggunakan keterampilan emosi bagi manusia yang terdiri atas 1) energizer ,pembangkit energi yang memberi kegairahan dalam kehidupan manusia, 2) emosi juga merupakan messenger, pembawa pesan,3) emosi adalah untuk reinforce, untuk memperkuat pesan atau informasi yang disampaikan, dan 4) manfaat yang terakhir adalah emosi untuk balancer, penyeimbang kehidupan kita.
Ekspresi emosi tidak terlepas dari kehidupan manusia terutama jika diimplimentasikan dalam hubungan dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan, demikian pula emosi menjadi penting karena ekspresi emosi yang tepat terbukti bisa melenyapkan stress pekerjaan. Menurut Ekman bahwa emosi manusia dapat dilihat dari ekspresi wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan senang. Ekspresi wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan senang yang diungkapkan oleh Ekman merupakan messenger atau pembawa pesan menurut Dio Martin, sehingga dapat diartikan emosi adalah suatu reaksi tubuh dalam menghadapi situasi tertentu dimana sifat dan intensitas emosi terkait erat dengan aktivitas kognitif ( berpikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi.
Daniel Goleman mengelompokkan emosi dalam golongan besar yaitu:
1. Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
2. Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis depresi berat.
3. Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut, sebagai patologi fobia dan panic.
4. Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya mania.
5. Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
6. Terkejut: terkejut, terkesiap, takjub, terpana.
7. Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
8. Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur.
Emosi manusia dikoordinasi oleh otak. bagian otak yang mengatur emosi adalah sistem limbiks. struktur-struktur dalam sistem limbik mengelola beberapa aspek emosi, yaitu pengenalan emosi melalui ekspresi wajah, tendensi berperilaku dan penyimpanan memori emosi. Folkerts menjelaskan bahwa sistem limbik terdiri atas empat struktur, yaitu: thalamus dan hipothalamus, amigdala, hipokampus dan lobus frontalis.[2] Thalamus menerima informasi dari lingkungan sekitar yang ditangkap oleh indera, sedang hipothalamus mengambil informasi dari bagian tubuh yang lain. Amigdala menginterpretasikan dan sekaligus menyimpannya sebagai arti emosi. hipokampus mendukung kerja amigdala dalam menyimpan memori emosi, mengkonsolidasi memori non-emosi secara detail dan menyampaikan memori tersebut ke jaringan memori yang berbeda di otak. Lobus frontalis bertanggungjawab dalam pengaturan emosi sehingga memunculkan respon emosi yang tepat.
Kinerja otak sebagai pusat koordinasi dapat dijabarkan sebagai berikut; informasi-informasi yang diterima alat indera akan dibawa oleh thalamus melewati sinapsis tunggal menuju amigdala, sedang sebagian besar lainnya dikirim ke neokorteks percabangan tersebut memungkinkan amigdala dapat memberikan respon emosi tanpa pengolahan informasi dan analisis dari neokorteks. Kasus tersebut disebut Goleman sebagai .pembajakan emosi
Dari berbagai teori tersebut dapat disimpulkan bahwa emosi terdiri atas dua jenis yaitu emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Emosi adalah hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik tentang situasi yang ditampakkan seseorang berdasarkan persepsi, pengalaman, dan proses berpikir yang diekspresikan pada wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan senang. Pada prinsipnya emosi menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda.
b. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan menurut CP.Chaplin seperti dikutip oleh M.Khalilurrahman memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu Anita Woolfolk mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian yaitu: (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Menurut Jansen H. Sinamo, kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat. Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai kemampuan untuk memperoleh informasi sehingga masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Kecerdasan menurut Howard Gardner dalam buku Frame of Mind menjelaskan ada delapan macam kecerdasan manusia yang meliputi:
1. kecerdasan bahasa (linguistic intelligence),
2. kecerdasan musik (musical intelligence),
3. kecerdasan logika-matematika (logical-mathematica lintelligence),
4. kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence),
5. kecerdasan kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic),
6. kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence),
7. kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence ), dan
8. kecerdasan naturalis (naturalits intelligence ).
Menurut Goleman, Kecerdasan intelekual hanya berpengaruh 20% terhadap kehidupan dan sisanya 80 % adalah kecerdasan emosional mengandung pengertian kecerdasan rasional saja tidak menyediakan kemampuan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan hidup. Kecerdasan emosilah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat dan potensi unik kita dan mengaktifkan aspirasi dan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari apa yang kita fikirkan menjadi apa yang kita jalani.
Dapat disimpulkan kecerdasan adalah kemampuan memahami dan memperoleh informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran untuk memandu kita dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien sehingga masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved). Dengan kata lain orang yang cerdas lebih dapat memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik daripada orang yang kurang cerdas.
c. Kecerdasan Emosional
Setiap individu memiliki emosi. Emosi mempunyai ranah tersendiri dalam bagian hidup seseorang. Orang yang dapat mengelola emosinya dengan baik berarti emosinya cerdas. Kecerdasan emosi ini disebut sebagai kecerdasan emosional. Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi dari kecerdasan emosional. Dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang kita dan orang lain rasakan termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Diantaranya pendapat Jeane Segal bahwa wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi; EQ bertanggungjawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial. Menurut Arief Rahman kecerdasan emosional adalah metability yang menentukan seberapa baik manusia mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain yang dimilikinya, termasuk intelektual yang belum terasah.
Bar-On seperti dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.
Dua definisi tentang kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Rahman dan Bar-On lebih menekankan pada hasil yang didapat oleh individu jika menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal. Hasil menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal tersebut menurut Buss dkk dalam Emotional Quality Management memuat lima besar karakteristik kepribadian (big five personality characteristic) antara lain:
1. Kemampuan beradaptasi dengan berbagai hirarki social (extroversion);
2. Keinginan bekerjasama (agreeableness);
3. Kapasitas untuk dipercaya dan bertahan pada suatu komitmen (conscientiousness);
4. Kemampuan untuk bertahan menghadapi stress dan berbagai tekanan (emotional stability);
5. Keterbukaan diri menghadapi masalah dan berpikir inovatif, serta kecerdikan menghadapi masalah (openness)
Kelebihan seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dibanding yang tidak memilliki kecerdasan emotional adalah:
1. Mereka lebih sukses bekerja karena lebih berempati, komunikatif,
humoris, dan lebih peka akan kebutuhan orang lain.
2. Mereka lebih bisa menyeimbangkan rasio dan emosi selalu obyektif
dan penuh pertimbangan
3. Lebih disukai rekanannya
4. Mereka menanggung stress yang lebih kecil karena dengan leluasa
dapat mengungkapkan perasaan, bukan memendamnnya.
5. Mereka lebih mudah menyesuaikan diri karena fleksibel dan mampu
beradaptasi
6. Selalu menjaga motivasi untuk mencapai cita-cita yang menjadi
tujuannya
Menurut Salovey dan Mayer langkah awal yang perlu diperhatikan guna meningkatkan kecerdasan emosional dalam Emotional Quality Management adalah:
1. Kesadaran diri (self awareness): kemampuan mengobservasi dan mengenali perasaan yang dimiliki diri sendiri;
2. Mengelola emosi (managing emotions): kemampuan mengelola emosi-termasuk yang tidak menhyenangkan-secara akurat, berikut memahami alas an dibaliknya;
3. Memotivasi diri sendiri (motivating oneself): kemampuan mengendalikan emosi guna mendukung pencapaian tujuan pribadi;
4. Empati (emphaty): kemampuan untuk mengelola sensitifitas, menempatkan diri pada sudut pandang orang lain sekaligus menghargainya; dan
5. Menjaga relasi (handling relationship): kemampuan berinteraksi dan menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain, disebut juga kemampuan sosial atau interpersonal. Sedangkan menurut Goleman untuk mengembangkan kecerdasan emosi terdiri dari lima dimensi yakni: (1) penyadaran diri, (2) mengelola emosi, (3) motivasi diri, (4) empati, (5) keterampilan social; yang dijelaskan lebih detil dalam bukunya Emitional Intelligence: Why it can matter more than IQ - Daniel Goleman [3]membagi Emotional Intelligence ke dalam 5 bidang kompetensi.
1. Pertama, Emotional Intelligence merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi atau mengenal emosi dirinya sendiri serta memahami hubungan antara emosi, pikiran dan tindakan.
2. Kedua, Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk mengelola emosi, ini berarti mengatur perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat.
3. Ketiga, Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk memotivasi diri yang dapat ditelusuri antara lain dengan sikap optimis dan berpikir positif.
4. Keempat Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk membaca dan mengenal emosi orang lain (empati),
5. Kelima Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain.
Kemudian kompetensi kecerdasan emosional dikembangkan lagi oleh Goleman dalam Frame Work yang terdiri dari 4 dimensi pokok dengan 20 kompetensi utama, seperti dijelaskan gambar berikut ini. 

Gambar 2. Framework kompetensi EQ terbaru dikembangkan oleh Daniel Goleman.
Salovey dan Mayer dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Salovey memperluas kecerdasan emosional menjadi lima wilayah utama,yaitu:
1) Empati
Merasakan yang dirasakan oleh orang lain dan memahami perspektifnya, menumbuhkan hubungan saling percaya serta menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
2) Kesadaran diri
Mengetahui apa yang kita rasakan dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri serta memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat.
3) Pengaturan diri
Menangani emosi kita sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali dari tekanan emosi.
4) Motivasi
Menggunakan hasrat untuk menggerakan dan menuntun menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
5) Keterampilan sosial
Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial dan berinteraksi dengan lancar serta menggunakan keterampilan ini untuk mempengaruhi orang lain.
Goleman dalam Ngermanto mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup. [4] Reuven Bar On[5] membagi Kecerdasan emosional menjadi lima, yaitu:
1. Ranah intrapribadi memiliki lima skala yaitu; kesadaran diri, sikap asertif, kemandirian, penghargaan diri dan aktualisasi diri.
2. Ranah antarpribadi memiliki tiga skala yaitu; empati tanggung jawab sosial dan hubungan antarpribadi.
3. Ranah penyesuaian diri/orientasi kognitif memiliki tiga skala yaitu; uji realitas, sikap fleksibel dan pemecahan masalah.
4. Ranah pengendalian stress memiliki dua skala yaitu; ketahanan menanggung stress dan pengendalian impuls.
5. Ranah suasana hati/afeksi memiliki dua skala yaitu; optimisme dan kebahagiaan.
Shapiro juga menyebutkan kualitas-kualitas kecerdasan emosional, diantaranya: empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.[6]
Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan yang berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup berdasarkan empat kompetensi, yaitu: 1) Kesadaran diri yaitu mengenali emosi diri, memahami hubungan antara emosi, pikiran dan tindakan dan rasa percaya diri, 2) Motivasi diri, yaitu bersikap optimis, berpikir positif, dan memotivasi diri, 3)Membina hubungan,yaitu diterima orang lain, membangun ikatan, dan dapat mempengaruhi (influence), 4) .Empati, yaitu merasakan kesulitan dan kebahagiaan orang lain, mengenal emosi orang lain, dan mampu menyelaraskan diri.
[1] Daniel Goleman.1997. Kecerdasan Emosional Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hal. 411.
[2]Tekad Wahyono. 2001. Memahami Kecerdasan Emosi Melalui Kerja Sistem Limbik. Surabaya:Universitas Wangsa Manggala, Anima, Indonesian Psychological Journal. Vol. 17. No.1. hal.38- 39.
[5] A.V. Aryaguna Setiadi. 2001. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan keberhasilan Bermain Game. Surabaya: Universitas Surabaya, Anima, Indonesia Psychological Journal, 2001, Vol.17, No. 1. hal. 44-45.
[6] Lawrence E. Shapiro. 2001. Mengajarkan Emotional Intellegence pada Anak, penerjemah, Alex Tri Kantjono. Jakarta: Gramedia. hal. 5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar