Etos kerja yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok masyarakat, khususnya guru akan menjadi sumber motivasi bagi perbuatan dan hasil akhir yang akan dicapainya, yang berpengaruh pada perkembangan psikologi dan perilaku anak didiknya sepuluh-duapuluh tahun ke depan. Dan kita adalah contoh produk dari hasil pendidikan sepuluh-duapuluh tahun yang lalu.
Etos kerja yang tinggi akan dijadikan sebagai prasyarat yang mutlak, dalam situasi kehidupan manusia yang sedang “membangun”, maka yang harus ditumbuhkan adalah membuka pandangan dan sikap kepada manusianya untuk bekerja keras dan sungguh-sungguh, sehingga dapat mengikis sikap kerja yang asal-asalan, tidak berorientasi terhadap mutu atau kualitas yang apa adanya. Indikasi turun atau rendahnya semangat dan kegairahan kerja antara lain disebabkan oleh turun atau rendahnya produktivitas, tingkat absensi yang naik atau rendah.
Eksistensi manusia akan memiliki makna jika keseluruhan aktivitas hidupnya didedikasikan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran Surat An-Nahl: 97 yaitu:
من عمل صالحا من ذكر اوانثى وهو مؤمن فلنحيينه حيوة طيبة ولنجزينهم اجرهم باحسن ماكانوا يعملون
Artinya “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat [1] Pernyataan etos sering dihubungkan dengan moral, Dan Sewel Ward dalam artikelnya yang berjudul Work Ethic menyatakan bahwa etos menurut definisi diartikan sebagai prinsip moral.[2] Istilah ethos diartikan sebagai watak atau semangat fundamental budaya, berbagai ungkapan yang menunjukkan kepercayaan, kebiasaan atau perilaku suatu kelompok masyarakat.
Kerja menurut kamus W.J.S Purwadaminta, berarti melakukan sesuatu; sesuatu yang dilakukan. Kerja memiliki arti luas dan sempit, dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat, sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang bertujuan mendapatkan materi. Kerja dibagi ke dalam cabang-cabang lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kerja.
Kata etos kerja merupakan gabungan dari dua kata yaitu etos dan kerja. Dengan menggabungkannya dengan kata ‘kerja’ , maka ‘etos kerja’ dapat diartikan sebagai karakteristik dari suatu kelompok yang mempertahankan kelangsungan dari moralitas pekerjaan.
…. (an ethic, by definition, is asset of moral principles. The word derives from the greek ethos – which in turn is ‘the spirit or attitudes of community, people, or system. Applying work as a modifier, suggests that the work ethic is a characteristic attitude of group toward what constitutes the morality of work.)[3]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia[4] etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok. Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa etos kerja berhubungan dengan pribadi dalam hal ini kinerja masing–masing pekerja sesuai dengan kewajiban dan spesifikasi pekerjaannya serta system kerja secara menyeluruh dalam rangka mencapai tujuan bersama yang sudah ditetapkan.
… ( the work ethic has been deeply challengefd by two trends-the division of labour and the destruction of continuity in employment. Work has been fractured in task and sub divided into specialized substasks or branches in to kind of work all together).[5]
Fischili dan Weis seperti dikutip oleh Helen Anne Moksworth dkk[6] menyimpulkan bagaimana bersikap baik dalam bekerja antara lain adalah
… (1) do one thing at a time, (2) know the problem, (3) learn to listen, (4) learn to ask question, (5) distinguish sense from nonsense, (6) accept change as inevitable, (7) admit mistakes, (8) say it simple, (9) be calm, (10) smile.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja berhubungan dengan kinerja pribadi sesuai dengan kewajiban dan spesifikasi pekerjaannya serta sistem kerja secara menyeluruh dalam rangka mencapai tujuan bersama yang sudah ditetapkan yang ditunjukkan dalam bentuk kepercayaan, kebiasaan, atau perilaku suatu kelompok.
b. Etos Kerja Islami
Bekerja menurut Moh. As’ad[7] adalah melaksanakan suatu tugas dan diakhiri dengan buah karya yang dapat dinikmati oleh manusia bersangkutan. Sedangkan menurut Toto Tasmara [8] kerja adalah segala aktifitas dinamis yang mempunyai tujuan untuk kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan berupaya untuk mewujudkan tujuan tersebut serta melahirkan prestasi yang bermanfaat bagi lingkungannya, sebagai salah satu bukti pengabdiannya terhadap Allah SWT. Bekerja menurut Didin Hafiduddin[9] merupakan bagian dari ibadah yang diikat dengan aturan akhlak atau etika, biasa disebut etika profesi, mengandung lima komponen yaitu SIFAT adalah kepanjangan dari Shiddiq, Istiqomah,
Fathonah, Amanah dan Tabligh . Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bekerja secara islami adalah segala aktifitas dinamis yang diikat dengan aturan akhlak atau etika yang dapat dinikmati sebagai bagian dari ibadah dan bukti pengabdiannya terhadap Allah SWT.
Fathonah, Amanah dan Tabligh . Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bekerja secara islami adalah segala aktifitas dinamis yang diikat dengan aturan akhlak atau etika yang dapat dinikmati sebagai bagian dari ibadah dan bukti pengabdiannya terhadap Allah SWT.
Etos kerja pada hakikatnya merupakan bagian dari konsep Islam tentang manusia karena etos kerja adalah bagian dari proses eksistensi manusia dalam lapangan kehidupan yang amat luas dan komplek[10]. Pandangan Islam mengenai etos kerja, di mulai dari usaha mengungkap sedalam-dalamnya sabda Rasullah Muhammad SAW yang mengatakan bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat pelakunya (inna a’malu bil niat), jika tujuannya tinggi mencari keridhaan Allah maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka maka setingkat pula nilai kerjanya. Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin[11] adalah membiasakan kehendak. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden.
Menurut K.H. Toto Tasmara[12] etos kerja adalah totalitas kepribadian diri serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna, ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal atau high Performance. Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah,[13] menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang menyebabkan munculnya kemudahan dalam berbuat dan bertindak tanpa perlu ada pertimbangan-pertimbangan pemikiran (sami’na waatho’na). Dengan demikian etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar.
Menurut Dr. Musa Asy’arie[14] etos kerja Islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan hamba (abd) yang membentuk kepribadian muslim dalam bekerja. Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan kreatif, produktif, inovatif, berdasarkan pengetahuan konseptual, sedangkan nilai-nilai ‘abd bermuatan moral, taat dan patuh pada hukum agama dan masyarakat. Toto Tasmara[15] mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah, sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah. Ciri-ciri orang yang memiliki semangat kerja, atau etos yang tinggi, dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya, diantaranya:
1. Kecanduan terhadap waktu
2. Memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)
3. Kecanduan kejujuran-jujur terhadap diri sendiri
4. Memiliki komitmen (aqidah, aqad, I’tikad)
5. Istiqamah, kuat pendirian
6. Kecanduan disiplin
7. Konsekwen dan berani menerima tantangan (challenge)
8. Memiliki sikap percaya diri
9. Orang yang kreatif
10. Tipe orang yang bertanggung jawab
11. Bahagia karena melayani
12. Memiliki harga diri
13. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership)
14. Berorientasi ke masa depan
15. HIdup berhemat dan efisien
16. Memiliki jiwa wiraswasta (entrepreneurship)
17. Memiliki insting bertanding (fastabiqul khairat)
18. Keinginan untuk mandiri (Independent)
19. Kecanduan belajar dan haus mencari ilmu
20. Memiliki semangat perantauan
21. Memperhatikan kesehatan dan gizi
22. Tangguh dan pantang menyerah
23. Berorientasi pada produktivitas
24. Memperkaya jaringan silahturahim
25. Memiliki semangat perubahan (spirit of change)[16]
Dari berbagai pendapat para pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja Islami berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak, semangat dan tanggung jawab yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita dalam rangka menggapai ridha Allah semata.
c. Etos Kerja Profesional
Etos kerja professional menurut Jansen. H. Sinamo adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran , keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada paradigma kerja yang integral.6 Selain itu etos kerja suatu organisasi profesi harus memiliki cara pandang ke depan yang baik dan dikembangkan oleh professional sendiri. Lebih lanjut Jansen Sinamo merumuskan delapan etos kerja professional antara lain:
1. Kerja adalah Rahmat
artinya bekerja tulus penuh syukur.
2. Kerja adalah Amanah
artinya bekerja benar penuh tanggung jawab
3. Kerja adalah Panggilan
artinya bekerja tuntas penuh integritas.
4. Kerja adalah Aktualisasi
artinya bekerja keras penuh semangat.
5. Kerja adalah Ibadah
artinya bekerja serius penuh kecintaan.
6. Kerja adalah Seni
artinya bekerja cerdas penuh kreativitas.
7. Kerja adalah Kehormatan
artinya bekerja tekun penuh keunggulan.
8. Kerja adalah Pelayanan
artinya bekerja paripurna penuh kerendahan hati.7
Dari delapan etos kerja professional tersebut dapat mencerminkan sifat-sifat etos kerja yang baik yaitu : Aktif, ceria, dinamis, disiplin, efektif, efisien, energik, fokus, gesit, ikhlas, interaktif, jeli, jujur, kerja keras kerja tim, konsisten, kreatif, lapang dada, membagi, menghargai, menghibur, optimis, peka, rajin ,ramah, sabar, semangat, tanggung jawab, tekun, teliti, tepat waktu, teratur, terkendali, toleran, total, ulet, sehingga kita perlu mencermati dan memahami etika professional.
Dalam mencermati dan memahami etika professional tersebut Sinamo menjelaskan tujuh mentalitas professional yang dibutuhkan untuk menghadapi era globalisasi. Tujuh mental tersebut adalah :
1) mentalitas mutu, adalah standar kerja yang tinggi yang diorientasikan pada
ideal kesempurnaan mutu.
2) mentalitas altruistik, adalah hadirnya motif altruistic dalam sikap dan
falsafah kerjanya.
3) mentalitas melayani, adalah sikap melayani secara tulus dan rendah hati
kepada pelanggannya dan nilai-nilai utama profesinya.
4) mentalitas pembelajar, adalah hati pembelajar yang menjadikannya terus
tumbuh dan mempertajam kompetensi kerjanya
5) mentalitas pengabdian,adalahterjalinnya dedikasi penuh cinta dengan
bidang profesi yang dipilihnya
6) mentalitas kreatif , adalah kreativitas kerja yang lahir dari penghayatannya
yang artistic atas bidang profesinya.
7) mentalitas etis, adalah kesetiaan pada kode etik profesi pilihannya. [17]
Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting, misalnya etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia. Etos kerja Bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni:
1. Gi - keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat.
2. Yu - berani dan bersikap kesatria.
3. Jin - murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama.
4. Re - bersikap santun, bertindak benar.
5. Makoto - bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih.
6. Melyo - menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta
Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut para sosiolog, terkait erat dengan etos kerja Protestan (puritan) merupakan mekanisme yang bersifat batin, yang akan menggerakkan ruh untuk rela bekerja keras dan pantang menyerah bersumber pada keimanan. Tanpa pencerahan iman, etos kerja akan mendorong manusia pada perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan moralitas.
Orang-orang Protestan memiliki etos kerja yang bersumber pada etika Protestan[19], yang menganggap kerja adalah panggilan suci, yang mengedepankan enam prinsip :
1. Bertindak rasional,
2. Berdisiplin tinggi,
3. Bekerja keras,
4. Berorientasi pada kekayaan material,
5. Menabung dan berinvestasi, serta
6. Hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan.
Etika Protestan merupakan hasil penelitian yang dilakukan Max Weber terhadap sekelompok penganut sekte Protestan Calvinist. Hasil penelitian Max Weber dibukukan dalam bukunya yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit Capitalsm Etika Protestan terbukti bisa memberikan spirit bagi orang-orang Protestan untuk selalu bekerja keras, melakukan inovasi-inovasi sebagai upaya pencapaian kemakmuran hidup dan kesejahteraan spiritual.[20]
Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi, apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut :
1. penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia.Mempunyai
2. Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia.
3. Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia.
4. Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,
5. Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah.
Sedangkan bagi individu atau kelompok masyarakat, yang memiliki etos kerja yang rendah, maka akan menunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya, yaitu;
1. Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri,
Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia,
2. Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh kesenangan,
3. Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan,
4. Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.[21]
Dapat disintesakan Etos kerja profesional adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran, keyakinan yang fundamental, kehendak atau kemauan yang disertai semangat yang tinggi dan tanggung jawab, disertai komitmen yang total pada paradigma kerja yang integral guna mewujudkan suatu tujuan.
semoga semua guru-guru di negara yang kita cintai ini memiliki etos kerja yang tinggi sebagai rasa tanggungjawab terhadap rabbnya. selamat berkarya. (TYAZ)
[1] Ronald M.green.1994. The ethical manager. New York: Macmillan college publishing company. Inc. hal.47.
[3] Taliziduhu Ndaraha. 2007. Management Control Systems. New York: Mc Graw Hill companies inc. hal. 40.
[5] Laurie J.Mullins. 2005. Management and organizational Behaviour. New York: Prentice Hall. hal. 99.
[10] Dr. Musa Asy’arie. 2005. Dakwah pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi dan Metodologi: Yogyakarta: Pustaka Pesantren. hal. 35.
[14] Dr. Musa Asy’arie. 1997. Islam, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi Umat. Jakarta: Rineka Cipta. hal. 49.
[17] Jansen H. Sinamo. 7 Mentalitas Profesional. http://www.institut mahardika.com/artikel/artiment.php
[19]Kusmayanto Kadiman. Op. cit. hal .1.
[20]http://id.wikipedia.org/wiki/Etika_Protestan_dan_Semangat_Kapitalisme diambil tanggal 26 Februari jam 13.07.
[21] H.A.R. Tilaar.2009. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam perspektif abad 21. Jakarta: Terari Indonesia. hal. 86.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar