Senin, 05 Maret 2012

METODOLOGI PENELITIAN : KONSEP DASAR PENELITIAN


Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
  1. Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
  2. Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
  3. Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.
Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam praktiknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian. Beikut ini akan dikemukakan secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
1. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsi­kan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga le­bih dan satu variabel.
Penelitian des­kriptif sesuai karakteristiknya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Perumusan masalah. Metode penelitian manapun harus diawali dengan adanya masa­lah, yakni pengajuan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ja­wabannya harus dicari menggunakan data dari lapangan. Pertanyaan masalah mengandung variabel-variabel yang menjadi kajian dalam studi ini. Dalam penelitian deskriptif peneliti dapat menentukan status variabel atau mempelajari hubungan antara variabel.
  2. 2. Menentukan jenis informasi yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan informasi apa yang di­perlukan untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Apakah informasi kuantitatif ataukah kuali­tatif. Informasi kuantitatif berkenaan dengan data atau informasi dalam bentuk bilangan/angka seperti.
  3. Menentukan prosedur pengumpulan data. Ada dua unsur penelitian yang diperlukan, yakni instrumen atau alat pengumpul data dan sumber data atau sampel yakni dari mana informasi itu sebaiknya diperoleh. Dalam penelitian ada sejumlah alat pengum­pul data antara lain tes, wawancara, observasi, kuesioner, sosio­metri. Alat-alat tersebut lazim digunakan dalam penelitian deskriptif. Misalnya untuk memperoleh informasi menge­nai langkah-langkah guru mengajar, alat atau instru­men yang tepat digunakan adalah observasi atau pengamatan. Cara lain yang mungkin di­pakai adalah wawancara dengan guru mengenai langkah-langkah mengajar. Agar diperoleh sampel yang jelas, permasalahan peneli­tian harus dirumuskan se-khusus mungkin sehingga memberikan arah yang pasti terhadap instrumen dan sumber data.
  4. Menentukan prosedur pengolahan informasi atau data. Data dan informasi yang telah diperoleh dengan instrumen yang dipilih dan sumber data atau sampel tertentu masih merupakan informasi atau data kasar. Informasi dan data tersebut perlu diolah agar dapat dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
  5. Menarik kesimpulan penelitian. Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpul­kan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertanyaan­-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban terse­but dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan pe­nelitian secara keseluruhan.
2. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misal­nya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja . Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya meng­ungkap semua variabel yang dapat menyebabkan terjadinya kasus ter­sebut dari berbagai aspek. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kon­disi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya, guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari. Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulan-kesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu ter­sebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif.
Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menye­luruh. Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digu­nakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
3. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masa­lah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijak­sanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah me­menuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
Survei dapat pula dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel seperti pendapat, persepsi, sikap, prestasi, motivasi, dan lain-lain. Misalnya persepsi kepala sekolah terhadap otonomi pendidikan, persepsi guru terhadap KTSP, pendapat orangtua siswa tentang MBS, dan lain-lain. Peneliti dapat mengukur variabel-variabel tersebut secara jelas dan pasti. Informasi yang diperoleh mungkin merupakan hal penting sekali bagi kelompok tertentu walaupun kurang begitu bermanfaat bagi ilmu penge­tahuan.
Survei dalam pendidikan banyak manfaatnya baik untuk memecahkan masalah-masalah praktis maupun untuk bahan dalam merumuskan kebijaksanaan pendidikan bahkan juga untuk studi pendidikan dalam hubungannya dengan pembangunan. Melalui me­tode ini dapat diungkapkan masalah-masalah aktual dan mendeskrip­sikannya, mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah diten­tukan, atau menilai efektivitas suatu program.
4. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering diguna­kan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variabel-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi yang bertujuan menguji hipotesis, dilakukan de­ngan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat diten­tukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubung­an dengan kompetensi profesional kepala sekolah. Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
Kekuatan hubungan antar variabel penelitian ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang angkanya bervariasi antara -1 sampai +1. Koefisien korelasi adalah besaran yang diperoleh melalui perhitungan statistik berdasarkan kumpulan data hasil pengukuran dari setiap variabel. Koefisien korelasi positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus atau kesejajaran, koefisien korelasi negatif menunjukkan hubungan yang berbading terbalik atau ketidak-sejajaran. Angka 0 untuk koefisien korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antar variabel. Makin besar koefisien korelasi baik itu pada arah positif ataupun negatif, makin besar kekuatan hubungan antar variabel.
Misalnya, terdapat korelasi positif antara variabel IQ dengan prestasi belajar; mengandung makna IQ yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang tinggi; dengan kata lain terdapat kesejajaran antara IQ dengan prestasi belajar. Sebaliknya, korelasi negatif menunjukkan bahwa nilai tinggi pada satu variabel akan diikuti dengan nilai rendah pada variabel lainnya. Misalnya, terdapat korelasi negatif antara absensi (ketidakhadiran) dengan prestasi belajar; mengandung makna bahwa absensi yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang rendah; dengan kata lain terdapat ketidaksejajaran antara absensi dengan prestasi belajar.
Dalam suatu penelitian korelasional, paling tidak terdapat dua variabel yang harus diukur sehingga dapat diketahui hubungannya. Di samping itu dapat pula dianalisis hubungan antara dari tiga variabel atau lebih.
Makna suatu korelasi yang dinotasikan dalam huruf r (kecil) bisa mengandung tiga hal. Pertama, kekuatan hubungan antar variabel, kedua, signifikansi statistik hubungan kedua variabel tersebut, dan ketiga arah korelasi. Kekuatan hubungan dapat dilihat dan besar kecilnya indeks ko­relasi. Nilai yang mendekati nol berarti lemahnya hubungan dan sebaliknya nilai yang mendekati angka satu menunjukkan kuatnya hubungan.
Faktor yang cukup berpengaruh terhadap besar kecilnya koefisien korelasi adalah keterandalan instrumen yang digunakan dalam pengukuran. Tes hasil belajar yang terlalu mudah bagi anak pandai dan terlalu sukar untuk anak bodoh akan menghasilkan koefisien korelasi yang kecil. Oleh karena itu instrumen yang tidak memiliki keterandalan yang tinggi tidak akan mampu mengungkap­kan derajat hubungan yang bermakna atau signifikan.
5. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, kegiatan memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan. Karakteristik penelitian eksperimen yaitu:
  1. Memanipulasi/merubah secara sistematis keadaan tertentu.
  2. Mengontrol variabel yaitu mengendalikan kondisi-kondisi penelitian ketika berlangsungnya manipulasi
  3. Melakukan observasi yaitu mengukur dan mengamati hasil manipulasi.
Proses penyusunan penelitian eksperimen pada prisnsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya. Secara eksplisit dapat dilihat sebagai berikut:
  1. Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan
  2. Mengidentifikasikan permasalahan
  3. Melakukan studi litelatur yang relevan, mempormulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.
  4. Membuat rencana penelitian mencakup: identifikasi variabel yang tidak diperlukan, menentukan cara untuk mengontrol variabel, memilih desain eksperimen yang tepat, menentukan populasi dan memilih sampel penelitian, membagi subjek ke dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, membuat instrumen yang sesuai, mengidentifikasi prosedur pengumpulan data dan menentukan hipotesis.
  5. Melakukan kegiatan eksperimen (memberi perlakukan pada kelompok eksperimen)
  6. Mengumpulkan data hasil eksperimen
  7. Mengelompokan dan mendeskripsikan data setiap variabel
  8. Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang sesuai
  9. Membuat laporan penelitian eksperimen.
Dalam penelitian eksperimen peneliti harus menyusun variabel-variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel yang terjadi. Variabel-variabel yang diteliti termasuk variabel bebas dan variabel terikat sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian. Dalam bidang pembelajaran misalnya yang diidentifikasikan sebagai variabel bebas antara lain: metode mengajar, macam-macam penguatan, frekuensi penguatan, sarana-prasarana pendidikan, lingkungan belajar, materi belajar, jumlah kelompok belajar. Sedangkan yang diidentifikasikan variabel terikat antara lain: hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, kemandirian siswa.
6. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
Penelitian tindakan bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan langkah pemecahan terhadap masalah. Langkah-langkah pokok yang ditempuh akan membentuk suatu siklus sampai dirasakannya ada suatu perbaikkan. Siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya yaitu: (1) penetapan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan perbaikan, (3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, (4) analisis dan refleksi, dan (5) perencanaan tindak lanjut. Mengingat besarnya manfaat penelitian tindakan dalam bidang pendidikan, uraian spesifik akan dijelaskan dalam materi tersendiri.
7. Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.
Penelitian dalam bidang pendidikan pada umumnya jarang diarahkan pada pengembangan suatu produk, tetapi ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan fenomena-fenomena yang bersifat fundamental, serta praktek-praktek pendidikan. Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dasar yang bersifat teoretis dengan penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau disambungkan dengan penelitian dan pengembangan. Dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, terdapat bebera­pa metode yang digunakan, yaitu metode: deskriptif, evaluatif, dan eksperimental.
Penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada. Kondisi yang ada mencakup: (1) Kondisi produk-produk yang sudah ada sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar (embrio) produk yang akan dikembangkan, (2) Kondisi pihak pengguna (dalam bidang pendidikan misalnya sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, serta pengguna lainnya); (3) Kondisi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan penggunaan dari produk yang akan dihasilkan, mencakup unsur pendidik dan tenaga kependidikan, sarana-prasarana, biaya, pengelolaan, dan lingkungan pendidikan di mana produk tersebut akan diterapkan.
Metode evaluatif, digunakan untuk mengevaluasi produk dalam proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk penelitian dikembangkan melalui serangkaian uji coba dan pada setiap kegiatan uji coba diadakan evaluasi, baik itu evaluasi hasil maupun evaluasi proses. Berdasarkan temuan-temuan pada hasil uji coba diadakan penyempurnaan (revisi model).
Metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap uji coba telah ada evaluasi (pengukuran), tetapi pengukuran tersebut masih dalam rangka pengembangan produk, belum ada kelompok pembanding. Dalam eksperimen telah diadakan pengukuran selain pada kelompok eksperimen juga pada kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara acak atau random. Pembandingan hasil eksperimen pada kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan tingkat keampuhan dan produk yang dihasilkan.
=============
Diambil dan adaptasi dari Bahan Belajar Mandiri Kegiatan Pelatihan Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. 2008

MANAJEMEN PENDIDIKAN : KEPUASAN KERJA


KEPUASAN KERJA
Kepuasan kerja merupakan bagian dari sikap dan persepsi seseorang terhadap pekerjaannya. Seseorang akan merasa puas apabila dia mendapatkan hasil dari pekerjaannya itu sesuai dengan harapan yang diinginkan. Dari hasil pekerjaan itu kemudian muncul sikap dan persepsi yang ditunjukkan dengan semangat yang tinggi dalam bekerja, maka kepuasan kerja guru terjadi karena  ada penyebabnya, terutama karena kepemimpinan kepala sekolah dan komunikasi interaktif antar warga sekolah berjalan dengan baik atau tidak.
Seorang guru yang merasa puas terhadap pekerjaannya akan menunjukkan sikap bertanggung jawab dan perilaku disiplin positif yang dapat diwujudkan dengan frekuensi kehadiran tinggi, disiplin mengajar yang bertanggung jawab, aktif dan kreatif serta inovatif. Sebaliknya seorang guru yang merasa tidak puas terhadap tugas-tugasnya akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak bertanggung jawab dan dapat dilihat dari rendahnya disiplin dan kinerja serta komunikasi yang terjalin. Oleh kartena itu kajian kepuasan kerja  dapat direfleksikan melalui sikap positip atau negatip yang dilakukan seorang guru terhadap pekerjaannya. Guru akan merasa tidak nyaman jika dibohongi, diperlakukan tak adil. Jika kondisi ini dirasakan maka kenyamanan bekerja akan pudar. Sebaliknya jika guru diperlakuan layak sebagaimana mestinya oleh pimpinan maka akan timbul rasa bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kemajuan organisasi (lembaga pendidikan).
 Individu yang bekerja, termasuk guru, merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan. Kemampuan itu diharapkannya agar diakui sebagai hal yang berarti untuk organisasi sehingga pengorbanannya tidak sia-sia dan bermanfaat untuk orang lain. Bagaimanapun juga kemampuan seorang guru, dia selalu akan berharap agar kemampuan yang telah disumbangkan pada lembaga pendidikan mendapat penghargaan yang layak. Kalau kemampuan yang dilakukan seorang guru sering mendapat sambutan dingin apalagi dianggap menyalahi kebijaksanaan, dan mendapat nilai negatif oleh pimpinan. Maka guru itu tidak akan mau lagi melakukan yang terbaik untuk lembaga, sebab dalam pemikirannya sudah tertanam suatu kesimpulan bahwa apapun yang dilakukan tetap tak akan dihargai. Untuk itu penghargaan dari pimpinan atau pihak lain sangat berarti untuk memotivasi kerja guru.
Dalam memenuhi kepuasan kerja guru agar sekolah mencapai prestasi yang baik, maka harus diupayakan oleh unsur-unsur kepala sekolah, guru, siswa, peraturan sekolah, sarana prasarana, budaya organisasi sekolah, iklim sekolah dan yang lainnya sebagai pendukung proses belajar mengajar di sekolah.
Kerja menurut kamus W.J.S Purwadaminta,  berarti melakukan sesuatu;  sesuatu yang dilakukan. Kerja memiliki arti luas dan sempit,  dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat, sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang bertujuan mendapatkan materi. Kerja dibagi ke dalam  cabang-cabang lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kerja.
Bekerja menurut Moh. As’ad adalah melaksanakan suatu tugas dan diakhiri dengan buah karya yang dapat dinikmati oleh manusia bersangkutan. Sedangkan menurut Toto Tasmara  kerja adalah segala aktifitas dinamis yang mempunyai tujuan untuk kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan berupaya untuk mewujudkan tujuan tersebut serta melahirkan prestasi yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bekerja adalah segala aktifitas dinamis yang diikat dengan aturan akhlak atau etika yang dapat dinikmati sebagai bagian dari ibadah, dan  bekerja berhubungan dengan kinerja pribadi sesuai dengan kewajiban dan spesifikasi pekerjaannya serta sistem kerja secara menyeluruh dalam rangka mencapai tujuan bersama yang sudah ditetapkan yang ditunjukkan dalam bentuk kepercayaan, kebiasaan, atau perilaku suatu kelompok.
Kata kepuasan berasal dari kata puas merupakan kata sifat, yang setelah diberi awalan "ke" dan akhiran "an" berubah menjadi kata benda (nomina abstrak), yaitu kepuasan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta, kata puas berarti merasa senang (lega, kenyang, dsb),  karena sudah merasa secukup-cukupnya atau sudah terpenuhi hasrat hatinya. Jadi maksud dari kepuasan ialah perasaan senang. Kata kepuasan  dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata satisfaction. Konsep atau teori tentang  kepuasan kerja itu sendiri menurut para pakar sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing seperti dijelaskan Indrawijaya  bahwa Kepuasan kerja, secara umum, menyangkut sikap seseorang mengenai pekerjaannya. Davis dan Newstrom [1] memberi pengertian kepuasan kerja sebagai berikut:
"Job satisfaction is a set of favourable feeling with which employees view their work  job satisfaction is a feeling of relative pleasure or pain ("I enjoy having a variety of task to do ") that differs from objective thought ("My work is complex ") and behaviour intentions ("I plan to quit this job in three months ") ".

Meskipun kepuasan kerja adalah suatu yang tak dapat dilihat tetapi dapat diwujudkan melalui hasil pekerjaan. Kepuasan kerja secara langsung adalah berkaitan dengan kepuasan batin seseorang terhadap pekerjaan. Kepuasan kerja dapat dirasakan ketika melaksanakan pekerjan atau sesudah melaksanakan pekerjaan. Greenberg dan Baron yang dikutip oleh Wibowo menjelaskan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap positif atau negatif yang dilakukan individual terhadap pekerjaan mereka. Sedangkan menurut Stephen Robbins, menyatakan bahwa "We've previously define satisfaction as an individual's general attitude toward his or her job". kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang, yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima. Gibson mengemukakan kepuasan kerja sebagai sikap yang dimiliki pekerja tentang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja itu dapat dinikmati ketika melakukan pekerjaan dan sesudah melakukan pekerjaan. Kepuasan kerja yang dirasakan ketika  melakukan pekerjaan akan tercermin pada disiplin kerja, memiliki moral kerja yang tinggi, penuh dedikasi, memiliki prestasi kerja, memperoleh pujian dalam bekerja. Vecchio menyatakan kepuasan kerja sebagai pemikiran, perasaan, dan kecenderungan tindakan seseorang, yang merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaan.
Yohannes Basuki mengemukakan tentang kepuasan kerja adalah: "job satisfaction is the degree to which on individual feels positively or negatively about the various face, of the job task the work setting and relationship with co-workers". Kepuasan kerja adalah suatu tingkatan yang mana individu merasa positif atau negatif tentang berbagai segi dari tugas kerja, pengaturan kerja dan hubungan dengan sesama karyawan. Menurut Kreitner dan Kinicki, kepuasan kerja merupakan respons affective atau emosional terhadap berbagai segi pekerjaan seseorang.
Definisi tersebut menunjukkan bahwa job satisfaction bukan merupakan konsep tunggal. Seseorang dapat relatif puas dengan salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek lainnya.  Menurut Spector [2]bahwa “job satisfaction is simply how people feel about their jobs and different aspects of their jobs. It is the extent to which people like (satisfaction) or dislike (dissatisfaction) their jobs”. Kepuasan kerja adalah bagaimana perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Sejauh mana orang menyukai atau tidak menyukai pekerjaannya.       Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan kepuasan kerja adalah bagaimana sikap seseorang dapat menikmati kepuasan ketika melakukan  /sesudah melakukan pekerjaannya. Sikap umum seseorang terhadap pekerjaan tersebut berhubungan dengan suka atau tidak suka terhadap  pekerjaannya, yang ditunjukkan oleh perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima/jumlah yang mereka yakini seharusnya diterima.




[1] John.W. Newstrom, Keith Davis.1997.Organizational behavior. New York: Mc Graw, hal.109.
[2] Spector,1997. Job satisfaction application assessment, caise and consequences, SagePublication, California. Hal.E.

KECERDASAN EMOSIONAL


                                                            KECERDASAN EMOSIONAL
a. Pengertian Emosi

Manusia sesungguhnya dikendalikan oleh salah satu atau lebih  dari sumber – sumber emosi yang pada keadaan normal tidak terlihat karena aktivitas rutin sehingga emosi tidak aktif. Dalam keadaan lain emosi muncul baik dalam bentuk kemarahan atau kegembiraan.      Emosi adalah perasaan kuat yang diarahkan ke seseorang atau sesuatu, sedangkan  emosi menurut Daniel Goleman dalam Oxford English Dictionary[1] didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang meluap-luap. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut pada waktu singkat; keadaan reaksi psikologi dan psikologis ( seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian) yang bersifat subyektif.  Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “ menggerakkan, bergerak”, di tambah awalan “e”- untuk memberi arti “bergerak menjauh” menyiratkan kecendrungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Definisi emosi secara akurat diungkapkan oleh J.P. Du Preez sebagai hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik, yang berarti emosi adalah hasil proses persepsi tentang situasi, tergantung bagaimana cara pandang  atau  mempersepsikan sesuatu dan terkait dengan tiga aspek penting yaitu: persepsi, pengalaman, dan proses berpikir.
 Pada prinsipnya emosi menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda, seperti dijelaskan Atkinson yang membedakan emosi hanya dua jenis yaitu emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Sementara itu Richard G. Warga dari Bucks County Community Collage dalam bukunya Personal Awareness seperti dikutip oleh Dio Martin membagi lima emosi dasar manusia yakni: senang, sedih, cita, takut, serta marah, sedangkan menurut hasil penelitian Paul Ekman dan Richard Lazarus ditemukan 6 emosi dasar manusia yang bersifat universal yakni: senang, marah, sedih, kaget, jijik dan takut.
Semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, dimana  pikiran emosional lebih cepat dari pada pikiran rasional, respon yang cepat tetapi ceroboh (langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukannya). Kecepatannya itu mengesampingkan pemikiran hati-hati dan analitis yang merupakan ciri khas akal yang berpikir.
 Berpikir adalah proses yang menafsirkan berbagai peristiwa dan lingkungan dan diikuti dengan bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap suatu keadaan. Penelitian mengungkapkan bahwa otak kita merasa 30.000 kali lebih cepat bertindak, bertindak 30.000 kali lebih capat dari pada berpikir. Kemampuan seseorang dalam keterampilan emosi sangat diperlukan dalam bersosialisasi di dunia sosial, pendidikan maupun  pekerjaan, antara lain adalah dalam mengelola emosi, kemampuan berelasi atau  berempati, kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan membutuhkan ketabahan emosi guna menghindari konflik. Dio Martin mengungkapkan empat manfaat kemampuan seseorang dalam menggunakan keterampilan emosi bagi manusia yang terdiri atas 1) energizer ,pembangkit energi yang memberi kegairahan dalam kehidupan manusia, 2) emosi juga merupakan messenger, pembawa pesan,3) emosi adalah untuk reinforce, untuk memperkuat pesan atau informasi yang disampaikan, dan 4) manfaat yang terakhir adalah emosi untuk balancer, penyeimbang kehidupan kita.
Ekspresi emosi tidak terlepas dari kehidupan manusia terutama jika diimplimentasikan dalam hubungan dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan, demikian pula emosi menjadi penting karena ekspresi emosi yang tepat terbukti bisa melenyapkan stress pekerjaan. Menurut Ekman bahwa emosi manusia dapat dilihat dari ekspresi wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan  senang.   Ekspresi wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan  senang  yang diungkapkan oleh Ekman merupakan messenger atau pembawa pesan menurut Dio Martin,  sehingga dapat diartikan emosi adalah suatu reaksi tubuh dalam menghadapi situasi tertentu dimana sifat dan intensitas emosi terkait erat dengan aktivitas kognitif ( berpikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi.
Daniel Goleman mengelompokkan emosi dalam golongan besar yaitu:
1.      Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan  kebencian patologis.
2.      Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis depresi berat.
3.      Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut, sebagai patologi fobia dan panic.
4.      Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya  mania.
5.      Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
6.      Terkejut: terkejut, terkesiap, takjub, terpana.
7.      Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
8.      Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur.
Emosi manusia dikoordinasi oleh otak. bagian otak yang mengatur emosi adalah sistem limbiks. struktur-struktur dalam sistem limbik mengelola beberapa aspek emosi, yaitu pengenalan emosi melalui ekspresi wajah, tendensi berperilaku dan penyimpanan memori emosi. Folkerts  menjelaskan bahwa sistem limbik terdiri atas empat struktur, yaitu: thalamus dan hipothalamus, amigdala, hipokampus dan lobus frontalis.[2] Thalamus menerima informasi dari lingkungan sekitar yang ditangkap oleh indera, sedang hipothalamus mengambil informasi dari bagian tubuh yang lain. Amigdala menginterpretasikan dan sekaligus menyimpannya sebagai arti emosi. hipokampus mendukung kerja amigdala dalam menyimpan memori emosi, mengkonsolidasi memori non-emosi secara detail dan menyampaikan memori tersebut ke jaringan memori yang berbeda di otak. Lobus frontalis bertanggungjawab dalam pengaturan emosi sehingga memunculkan respon emosi yang tepat.
Kinerja otak sebagai pusat koordinasi dapat dijabarkan sebagai berikut; informasi-informasi yang diterima alat indera akan dibawa oleh thalamus melewati sinapsis tunggal menuju amigdala, sedang sebagian besar lainnya dikirim ke neokorteks percabangan tersebut memungkinkan amigdala dapat memberikan respon emosi tanpa pengolahan informasi dan analisis dari neokorteks. Kasus tersebut disebut Goleman sebagai .pembajakan emosi
Dari berbagai teori tersebut dapat disimpulkan bahwa emosi  terdiri atas dua jenis yaitu emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Emosi adalah hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik tentang situasi  yang ditampakkan seseorang berdasarkan persepsi, pengalaman, dan proses berpikir  yang  diekspresikan pada wajah, tekanan suara, mimik muka, gerak tubuh, sedih, marah, jijik dan  senang.  Pada prinsipnya emosi menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda.
    b. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan menurut CP.Chaplin  seperti dikutip oleh M.Khalilurrahman  memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu Anita Woolfolk  mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian yaitu: (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Menurut Jansen H. Sinamo, kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat. Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai kemampuan untuk memperoleh informasi sehingga masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun  bertambah. Kecerdasan menurut Howard Gardner dalam buku  Frame of Mind  menjelaskan ada delapan macam  kecerdasan manusia yang meliputi:
1.      kecerdasan bahasa (linguistic intelligence),
2.      kecerdasan musik (musical intelligence),
3.      kecerdasan logika-matematika (logical-mathematica lintelligence),
4.      kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence),
5.      kecerdasan kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic),
6.      kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence),
7.      kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence ), dan
8.      kecerdasan naturalis (naturalits intelligence ).

Menurut Goleman, Kecerdasan intelekual hanya berpengaruh 20% terhadap kehidupan dan sisanya 80 % adalah kecerdasan emosional mengandung pengertian kecerdasan rasional saja tidak menyediakan kemampuan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan hidup. Kecerdasan emosilah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat dan potensi unik kita dan mengaktifkan aspirasi dan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari apa yang kita fikirkan menjadi apa yang kita jalani.
 Dapat disimpulkan  kecerdasan adalah kemampuan memahami  dan memperoleh informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran untuk memandu kita dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien sehingga masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved). Dengan kata lain orang yang cerdas lebih dapat memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik daripada orang yang kurang cerdas.
     c. Kecerdasan Emosional
Setiap individu memiliki emosi. Emosi mempunyai ranah tersendiri dalam bagian hidup seseorang. Orang yang dapat mengelola emosinya dengan baik berarti emosinya cerdas. Kecerdasan emosi ini disebut sebagai kecerdasan emosional. Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi dari kecerdasan emosional. Dalam konteks pekerjaan, pengertian  kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang kita dan orang lain rasakan termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Diantaranya pendapat  Jeane Segal bahwa wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi; EQ bertanggungjawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial. Menurut Arief Rahman kecerdasan emosional adalah metability yang menentukan seberapa baik manusia mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain yang dimilikinya, termasuk intelektual yang belum terasah.
 Bar-On seperti dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian  kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.
Dua definisi tentang kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Rahman dan Bar-On lebih menekankan pada hasil yang didapat oleh individu jika menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal. Hasil menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal tersebut menurut Buss dkk dalam Emotional Quality Management memuat lima besar karakteristik kepribadian (big five personality characteristic) antara lain:
1.        Kemampuan beradaptasi dengan berbagai hirarki social (extroversion);
2.        Keinginan bekerjasama (agreeableness);
3.        Kapasitas untuk dipercaya dan bertahan pada suatu komitmen (conscientiousness);
4.        Kemampuan untuk bertahan menghadapi stress dan berbagai tekanan (emotional stability);
5.        Keterbukaan diri menghadapi masalah dan berpikir inovatif, serta kecerdikan menghadapi masalah (openness)
Kelebihan seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dibanding yang tidak memilliki kecerdasan emotional adalah:
1.   Mereka lebih sukses bekerja karena lebih berempati, komunikatif,
     humoris, dan lebih peka akan kebutuhan orang lain.
2.   Mereka lebih bisa menyeimbangkan rasio dan emosi selalu obyektif
     dan penuh pertimbangan
3.   Lebih disukai rekanannya
4.   Mereka menanggung stress yang lebih kecil karena dengan leluasa
     dapat mengungkapkan perasaan, bukan memendamnnya.

5.   Mereka lebih mudah menyesuaikan diri karena fleksibel dan mampu
     beradaptasi
6.   Selalu menjaga motivasi untuk mencapai cita-cita yang menjadi
     tujuannya

Menurut Salovey dan Mayer langkah awal yang perlu diperhatikan guna meningkatkan kecerdasan emosional dalam Emotional Quality Management adalah:
1.      Kesadaran diri (self awareness): kemampuan mengobservasi dan mengenali perasaan yang dimiliki diri sendiri;
2.      Mengelola emosi (managing emotions): kemampuan mengelola emosi-termasuk yang tidak menhyenangkan-secara akurat, berikut memahami alas an dibaliknya;
3.      Memotivasi diri sendiri (motivating oneself): kemampuan mengendalikan emosi guna mendukung pencapaian tujuan pribadi;
4.      Empati (emphaty): kemampuan untuk mengelola sensitifitas, menempatkan diri pada sudut pandang orang lain sekaligus menghargainya; dan
5.  Menjaga relasi (handling relationship): kemampuan berinteraksi dan menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain, disebut juga kemampuan sosial atau interpersonal. Sedangkan menurut Goleman untuk mengembangkan kecerdasan emosi terdiri dari lima dimensi yakni: (1) penyadaran diri, (2) mengelola emosi, (3) motivasi diri, (4) empati, (5) keterampilan social; yang dijelaskan lebih detil dalam bukunya Emitional Intelligence: Why it can matter more than IQ - Daniel Goleman [3]membagi Emotional Intelligence  ke dalam 5 bidang kompetensi.
1.      Pertama, Emotional Intelligence merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi atau mengenal emosi dirinya sendiri serta memahami hubungan antara emosi, pikiran dan tindakan.
2.      Kedua, Emotional Intelligence  adalah kemampuan untuk mengelola emosi, ini berarti mengatur perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat.
3. Ketiga, Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk memotivasi diri yang dapat ditelusuri antara lain dengan sikap optimis dan berpikir positif.
4. Keempat Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk membaca dan mengenal emosi orang lain (empati),
5.      Kelima Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain.  
Kemudian kompetensi kecerdasan emosional dikembangkan lagi oleh Goleman dalam Frame Work yang terdiri dari 4 dimensi pokok dengan 20 kompetensi utama, seperti dijelaskan gambar berikut ini. IMG_0031
Gambar 2. Framework kompetensi EQ terbaru dikembangkan oleh Daniel Goleman.
Salovey dan Mayer dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Salovey memperluas kecerdasan emosional menjadi lima wilayah utama,yaitu:
   1) Empati
Merasakan yang dirasakan oleh orang lain dan memahami perspektifnya, menumbuhkan hubungan saling percaya serta menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.

2) Kesadaran diri
Mengetahui apa yang kita rasakan dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri serta memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat.

        3) Pengaturan diri
Menangani emosi kita sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali dari tekanan emosi.

       4) Motivasi
Menggunakan hasrat untuk menggerakan dan menuntun menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

        5) Keterampilan sosial
Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial dan berinteraksi dengan lancar serta menggunakan keterampilan ini untuk mempengaruhi orang lain.
Goleman dalam Ngermanto mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup. [4] Reuven Bar On[5] membagi Kecerdasan emosional menjadi lima, yaitu:
1.       Ranah intrapribadi memiliki lima skala yaitu; kesadaran diri, sikap asertif,   kemandirian, penghargaan diri dan aktualisasi diri.
2.      Ranah antarpribadi memiliki tiga skala yaitu; empati tanggung jawab sosial dan hubungan antarpribadi.
3.       Ranah penyesuaian diri/orientasi kognitif memiliki tiga skala yaitu; uji realitas, sikap fleksibel dan pemecahan masalah.
4.       Ranah pengendalian stress memiliki dua skala yaitu; ketahanan menanggung stress dan pengendalian impuls.
5.       Ranah suasana hati/afeksi memiliki dua skala yaitu; optimisme dan kebahagiaan.

Shapiro juga menyebutkan kualitas-kualitas kecerdasan emosional, diantaranya: empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.[6]
Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian  kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan yang berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup berdasarkan empat kompetensi, yaitu: 1) Kesadaran diri yaitu mengenali emosi diri, memahami   hubungan antara emosi, pikiran dan tindakan dan rasa percaya diri, 2) Motivasi diri, yaitu bersikap optimis, berpikir positif, dan memotivasi diri, 3)Membina hubungan,yaitu diterima orang lain, membangun ikatan, dan dapat mempengaruhi (influence), 4) .Empati, yaitu  merasakan kesulitan dan kebahagiaan orang lain, mengenal emosi orang lain, dan mampu menyelaraskan diri.


[1] Daniel Goleman.1997. Kecerdasan Emosional Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hal. 411.
[2]Tekad Wahyono. 2001.  Memahami Kecerdasan Emosi Melalui Kerja Sistem Limbik. Surabaya:Universitas Wangsa Manggala, Anima, Indonesian Psychological Journal.  Vol. 17. No.1. hal.38- 39.
   [3] Daniel Goleman . 2004. Emitional Intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bloomsbury. hal. 245
[4] Daniel Goleman. Op. cit., hal 368.
[5] A.V. Aryaguna Setiadi. 2001.  Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan keberhasilan Bermain Game. Surabaya: Universitas Surabaya, Anima, Indonesia Psychological Journal, 2001, Vol.17, No. 1. hal. 44-45.
[6] Lawrence E. Shapiro. 2001. Mengajarkan Emotional Intellegence pada Anak, penerjemah, Alex Tri Kantjono. Jakarta: Gramedia. hal. 5.